Pembelajaran Kontekstual

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannnya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan dan penilaian sebenarnya.

Contoh Skenario Pembelajaran Kontekstual (dalam mp. Sains)

  1. Kelas dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil a 4-5 orang
  2. Masing-masing kelompok menghadap meja yang diatasnya telah tersedia 1 toples berisi air dan ikan, penggaris, termometer, dan kertas manila masing-masing 1 buah, dan kertas quarto sesuai yang dibutuhkan
  3. Selama empat puluh menit, kelompok siswa mengamati ikan yang ada dalam toples. Siswa diminta mmengamati ikan tersebut, mencatat semua aspek yang mereka amati : ukuran, warna, perkiraan beratnya, perilaku ikan, dsb.
  4. Siswa menyajikan hasil pengamatan di kertas karton. Kreativitas dalam menyajikan hasil pengamatan sangat dihargai : boleh dengan gambar, bagan atau verbal. Juga siswa diharapkan mampu membedakan antara data kuantitatif dengan data kualitatif yang mereka temukan.
  5. Setiap kelompok mempresentasikan/menyajikan hasil kelompok mereka.
  6. Sharing pendapat berkenaan dengan temuan/hasil pengamatan kelompok
  7. Sebaiknya diberikan reinforcement/penghargaan bagi kelompok yang memperoleh hasil terbaik (baik dari segi kelengkapan temuan maupun dari segi kualitas laporan dan presentasi)

Karakteristik Anak Unggul (Gifted)

Anak unggul biasanya identik dengan anak genius dan anak berbakat. Anak genius dan anak berbakat adalah anak-anak yang memiliki potensi dan kemampun yang tinggi dalam bidang akademik, dengan membuat kreasi yang unik, kreatif, dan mengangungkan. Anak-anak genius dan berbakat juga membutuhkan pendekatan khusus dalam pengajaran dan pembelajaran untuk menghindarinya dari rasa bosan terhadap mata pelajaran dan guru yang monoton. Mereka sering salah dianggap sebagai murid yang nakal karena tidak menunjukkan perhatian pada pelajaran dalam kelas, padahal mereka memahami dan menguasai dengan baik semua pelajaran yang diberikan kepadanya.

Sistem pendidikan yang “tradisional”, yang menekankan bahwa guru adalah sumber segalanya, dan anak-anak harus mengikuti arahan guru, akan menghambat perkembangan anak yang genius dan berbakat ini. Mereka sebenarnya butuh tempat yang sesuai dengan tingkat kegeniusannya, sehingga tidak cocok pada sekolah-sekolah anak-anak normal pada umumnya. Biasanya anak genius dan berbakat ini, terkadang terlihat bodoh dan nakal dalam kelas, karena mereka tidak menyukai dan bahkan sudah menguasai pelajaran yang hendak diberikan kepadanya.

Anak genius dan berbakat membutuhkan tantangan yang lebih besar dibandingkan dengan anak yang biasanya. Anak genius dan berbakat berada “di luar kurva normal”, tetapi keberadaanya berada disebelah kanan kurva, sedangkan anak yang mengalami retardasi mental berada disebelah kiri kurva normal. Anak genius dan anak berbakat disebut juga anak super normal. Karena anak genius dan berbakat adalah anak yang “tidak normal” sehingga membutuhkan perlakuan khusus yang harus diberikan kepadanya.

Salah satu program pendidikan yang menunjang perkembangan anak genius dan berbakat ini adalah dengan disediakannya program kelas ekselerasi, dimana anak diberikan kebebasan untuk mempelajari pelajaran yang sebenarnya untuk umur diatasnya. Tidak heran, jika seorang anak yang genius dan berbakat dalam bidang akademik, bisa menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya dan sekolah menengahnya lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak yang normal.

Untuk membantu anak yang dengan tingkat kegeniusan dan keberbakatan yang tinggi, perlu identifikasi sejak dini oleh orang tua dan guru, agar anak dapat menyesuaikan diri dengan tantangan yang seharusnya dihadapi dengan tingkat intelegensinya.

 

HAKEKAT KETERBAKATAN

Secara yuridis formal layanan pendidikan bagi anak berbakat telah mendapat tempat dalam Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 2/ 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat (1) dan (2), menyatakan bahwa:

(1)    Warga negara yang memiliki kelainan fisik dan atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa.

(2)    Warga negara yang memilki kemapuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.

Istilah kemampuan dan kecerdasan luar biasa dipadankan dengan istilah gifted atau berbakat. Sebutan lain bagi anak berbakata (gifted) misalnya genius, bright, crative, talented.

Salah satu ciri yang paling  umum diterima sebagai ciri anak berbakat ialah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada anak normal, sebagimana diukur oleh alat ukur kecerdasan (IQ) yang sudah baku.

Untuk memahami sifat ganda dari keterbakatan, para ahli mencoba mengklasifikasi defnisi keterbakatan. Lucito (dalam Cartwright, 1984) mengklasifikasikan definin keterbakatan ke dalam definsi:

  1. Ex post facto, yang didasarkan atas penampilan prestasi yang luar biasa dalam bidang tertentu.
  2. Intellegence-test, yang didasarkan atas skor IQ setelah diukur tes kecerdasan.
  3. Social, yang didasarkan atas kecakapan-kecakapan yang secara sosial dapat disetujui (diterima).
  4. Precentage, yang didasarkan atas persyaratan masyarakat akan jumlah orang yang berbakat yang dikehendaki untuk memainkan peran-peran khusus.
  5. Creativity, yang didasarkan atas perilaku dan/atau unjuk kerja sebagaimana diukur oleh pengukuran kreativitas.

Konsep anak berbakat lebih mengacu kepaa konsep berdimensi ganda maka penggunaan istilah lain, seperti istilah anak cerdas dan cemerlang (S.C.U. Munandar, 1982 b).

Cattel (dalam Barbara Clark, 1988:8) mengartikan: “intelligence is a composite or combination of human traits, which includes a capacity for insight into complex relationship, all of the processes involved in abstract thinking, ‘adaptibility in problem solving, and capacitiy to acquire new capacity”.

Renzulli (1978) merumuskan konsep pemikiran bahwa keterbakatan itu terbentuk dari hasil interaksi antara tiga kluster aspek penting, yaitu:

  1. Kecakapan di atas rata-rata.
  2. Komitmen tugas yang tinggi.
  3. Kreativitas

Pikiran ini tampak memadukan semua dimensi keterbakatan yang dibicarakan di atas, yakni: Kecakapan intelektual, prestasi akademik, kreativitas dan bakat, serta aspek sosial. Konsep ini merefleksikan para pendidik/guru untuk melihat dan memahami keterbakatan sebagai sesuatu yang berdimensi ganda.

 

Masalah Kreativitas dan Bakat

Kreativitas dan keterbakatan adalah dua hal yang dapat dibedakan tetapi amat erata kaitannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Guilford (1959), Renzulli (1978), Torrance (1962), Gelzels dan Jackson (1962), Clark (1983) dan para ahli lainnya bahwa dalam keterbakatan itu ada komponen penting yang disebut krativitas dan melihat ketertkaitan antara keduanya. Dalam model Guilford ada 120 faktor kemampuan intelektual manusia yang dapat diukur. Pada tahun 1982, Guilford mengembangkan menjadi 150 kemampuan dengan memisahkan konten figural dari dimensi auditoris (Khatena, 1992). Dalam kaitannya dengan proses berpikir  kreatif, konsep berpikir konvergen (convergent production) dan berpikir divergen (divergent production) menjadi relevan untuk dibahas.

Berpikir kreatif tidak sama dengan kecerdasan tinggi. Keterbakatan tampaknya lebih banyak digunakan dalam merujuk suatu kecakapan khusus atau prestasi tertentu, sedangkan kreativitas digunakan dalam makna yang lebih luas. Kreativitas tidak hanya menyangkut aspek intelektual tetapi juga menyangkut aspek non-intelektual. Keterbakatan adalah sesuatu yang berdimensi ganda dan merupakan hasil dari interaksi seluruh fungsi-fungsi manusia. Sementara kreativitas terbentuk sebagai hasil dari keterpaduan fungsi-fungsi berpikir, perasaan, penginderaan dan intuisi sebagai suatu totalitas. Jadi, dapatlah dikatakan bahwa keterbakatan akan terwujud di dalam perilaku-perilaku kreatif. Dengan kata lain, kreativitas merupakan ekspresi puncak keterbakatan, “… creativity, the highest expression of giftedness…” (Clark, 1988: 48).

 

Karakteristik Umum Anak UNGGUL

Berdasarkan hasil penelitian maupun pengalaman (S.C. Utami Munandar, 1982a, 1982b; Kitano dan Kirby, 1986; Clark, 1983), bahwa karakteristik dan kebutuhan anak berbakat mencakup aspek-aspek sebagai berikut:

  1. Intelektual
  2. Akademik
  3. Kreativitas
  4. Kepemimpinan dan sosial
  5. Seni
  6. Afeksi
  7. Sensori fisik
  8. Intuisi
  9. Ekologis

 

IDENTIFIKASI ANAK UNGGUL

Beberapa kemungkinan teknik identifikasi anak berbakat yang dapat dilakukan sekolah diantaranya adalah sebagai berikut;

  1. Penggunaan Tes Kecerdasan

Penggunaan tes kecerdasan untuk keperluan identifikasi keterbakatan dapat dilakukan dalam dua tahap, yaitu;

  1. Tahap Penjaringan, dilakukan secara kelompok dengan menggunakan tes kelompok. Dari tahap ini diharapkan dapat ditemukan anak yang diduga termasuk anak berbakat.
  2. Tahap Seleksi, digunakan tes individual agar memberikan hasil pengukuranyang lebih teliti, cermat, dan akurat.

Masalah utama yang dihadapi dalam teknik ini hanya bisa dilakukan oleh orang tertentu yang berkeahlian dalam hal itu. Akibatnya penggunaan teknik ini memiliki keterbatasan.

  1. Studi Kasus

Identifikasia anak berbakat dengan menggunakan teknik ini dilakukan dengan jalan menghimpun berbagai informasi tentang anak dari berbagai sumber, baik orang tua, guru, teman sebaya, atau pihak lain yang dianggap mengetahui tentang anak itu. Dalam kasus seperti ini tidak boleh digunakan tes kecerdasan melainkan lebih banyak digunakan wawancara, pengamatan, pencatatan, studi dokumentasi yang berkenaan dengan riwayat perkembangan anak.

Masalah yang mungkin terjadi dalam teknik ini ialah validitas pengamatan dan penghimpunan informasi, hingga masa pengamatan dan pencatatan informasi tidak dipengaruhi oleh bias-bias pribadi. Untuk itu, studi kasus menghendaki pengamatan dan pencatatan yang berkelanjutan dan tidak berlangsung hanya sesaat.

 

PERKEMBANGAN FISIK ANAK UNGGUL

Perkembangan fisik pada anak berbakat sama halnya seperti anak pada umumnya. Namun ada kecenderungan bahwa secara fisik anak berbakat lebih kuat, lebih besar dan lebih sehat daripada anak normal. Reaksi fisik terjadi lebih cepat dan lebih awal dari anak-anak biasa karena secara umum inteletualnya lebih mampu menyerap informasi dan stimulus dari luar. Perkembangan psikomotorik dan kemampuan koordinasi anak berbakat cenderung lebih cepat dari rata-rata.

Masalah yang mungkin terjadi pada  anak berbakat berkaitan dengan perkembangan fisiknya adalah bahwa anak dengan kecakapan intelektual tinggi mungkin sangat rawan terhadap karakteristik “Cartesian split” antara pikiran dan keadaan, serta kekurangpaduan antara “mind and body”. Cartesian split adalah paham filsafat yang menganggap bahwa pikiran dan badan itu adalah dua substansi yang berbeda dan satu sama lain tidak ada hubungan kausalitas. Karena sensitivitas intelektual yang cukup tinggi, anak berbakat cenderung menunjukkan karakteristik fisik seperti; menerima masukan (stimulus) yang luar biasa dari lingkungan melalui kesadaran sensoris yang amat tinggi, kesenjangan antara perkembangan fisik dan intelektual, kurang toleran terhadap kesenjangan antara standar dan keterampilan fisik.

 

PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK UNGGUL

Berdasarkan peneliatian Hewit (dalam Yelon&Weinstein, 1997) dan Kitano (1986) ditemukan bahwa memang anak berbakat secara intelektual menunjukkan kemampuan berpikir analitis, integratif, dan evaluatif, berorientasi pemecahan masalah, kemampuan verbal yang tinggi, serba ingin sempurna, memilih cara lain dalam memahami dan mengolah informasi, memiliki fleksibiltas berpikir, berkemampuan melahirkan gagasan dan pemecahan orisinal, berorientasi evaluatif baik terhadap dirinya maupun orang lain.

Treffinger (1980) mengemukakan sejumlah karakteristik unik anak berbakat adalah sebagai berikut:

  1. Rasa ingin tahu yang tinggi (Curiosity)
  2. Berimajinasi (Imagination)
  3. Pruktif (Productivity)
  4. Independen dalam berpikir dan menilai (Independence in thouhgt and judgment)
  5. Mau mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan informasi dan mewujudkan ide-ide (Extensive fund of information and ideas)
  6. Memiliki ketekunan (Persistence)
  7. Bersikukuh dalam menyelesaikan masalah (Commitment to solving problems)
  8. Berkonsentrasi ke masa depan dan hal-hal yang belum diketahui (Concern with the future and the unknown)

Sementara itu, Hoyle dan Wilks (S.C.U. Munandar, 1982) mendeskripsikan bahwa anak-anak berbakat menampilkan ciri-ciri perkembangan kognitif sebagai berikut:

  1. Memiliki kemampuan berpikir superior, berpikir abstrak, menggeneralisir fakta, memahami makna, dan memahami hubungan.
  2. Memiliki hasrat ingin tahu (curiosity) yang luas.
  3. Bersikap mudah untuk belajar.
  4. Memiliki rentang minat yang luas (bervariasi).
  5. Memiliki rentang perhatian yang luas memungkinkan daya berkonsentrasi bertahan dalam pemecahan masalah dan berhasrat tinggi untuk menyelesaikannya.
  6. Memilki kemampuan berbahasa tinggi, baik secara kuantitas maupun kualitas dibandingkan teman sebayanya.
  7. Memiliki kecakapan bekerja efektif dan mandiri.
  8. Memiliki kesiapan belajar lebih awal (sebelum usia sekolah)
  9. Menunjukkan kekuatan penguatan yang tajam.
  10. Menunjukkan inisiatif san originalitas pekerjaan intelektual.
  11. Mampu dan siap merespon secara cepat terhasap gagasan baru.
  12. Mampu mengingat secara cepat.
  13. Memiliki minat luas terhadap masalah manusia dan dunia.
  14. Memiliki imajinasi yang luar biasa.
  15. Mampu mengikuti petunjuk yang sulit secara mudah.
  16. Mampu membaca cepat.
  17. Memiliki berbagai hobi.
  18. Memilki  minat baca dalam berbagai bidang pengetahuan.
  19. Sering dan efektif dalam menggunakan perpustakaan.
  20. Menunjukkan kemampuan tinggi dalam matematika, terutama dalam memecahkan masalah.

 

Apabila intelegensi anak-anak kita liukiskan dengan diagram maka akan nampak kurva normal.

Bagan diatas menunjukan letak kedudukan tingkat intelegensi golongan supernormal. Mereka memiliki intelegensi jumlah IQ diatas normal sekitar lebih kurang 110 – 200.

 

Kalasifikasi

Presentasi

IQ

MA

Cacat berat /Idiosi

1%

0 – 25

0 – 35 th.

Cacat agak berat / Imbesil

2%

25 – 50

3 – 8 th

Cacat Ringan / Debilk Lamban belajar / Slow learner

20 – 25 %

50 – 75

8 – 12 th

75 – 85

Rata –rata / Average / Normal

50 – 55 %

90 – 110

MA – CA

Rapid Learning / Superior

20 – 25 %

110 – 125

MA > CA

Gift / Very Superior

2 %

125 – 140

MA > CA

Genius / Veri Ssuperior

1%

140 – 200

MA > CA

 

Untuk mengetahui intelegensi tiap-tiap anak, dapat ditemukan melalui test Intelegensi. Penyataan hasil intelegensi pernyataan ini hasil tes intelegensi tidak selalu dinyatakan dalam bentuk  tingkat (grade) serta percentil point (PP) seperti pada alat tes SPM.

Hubungan IQ dengan batasan umur: James D. Page mengatakan bahwa dapat memperoleh IQ paling optimal pada umur 15 tahun. Pada umur inilah dapat dipakai standar pengukuran IQ untuk orang-orang dewasa.

Hubungan Sekolah dengan tingkat pendidikan:  Noyes dan Kolb menyatakan bahwa untuk dapat menyelesaikan suatu tingkatan pendidikan dibutuhkan persyaratan IQ sebagai berikut :

IQ

Tingkat Pendidikan

80 – 90

Sekolah Dasar

90 – 110

Sekolah Menengah

110 – keatas

Perguruan Tinggi

 

PERKEMBANGAN EMOSI ANAK UNGGUL

Karakteristik kemampuan kognitif tinggi pada anak berbakat dan kepekaannya terhadap dunia sekitar menjadikan anak berbakat memiliki akumulasi informasi yang banyak. Mereka mampu mengolah informasi dan menumbuhkan kesadaran akan diri dan dunianya, maka akan menjadikan anak berbakat menunjukkan perkembangan emosi yang lebih matang dan stabil. Motivasi dan daya saing yang kuat, hasrat ingn tahu yang besar, dan minat eskplorasi yang tidak berujung pada anak berbakat, mungkin akan menimbulkan keirian mereka terhadap gurunya karena gurunya dirasakan tidak memahami kebutuhannya. Akibatnya mereka memilki gambaran diri terlalu tinggi, selalu mengangggap benar pendapat sendiri yang dapat menumbuhkan kesan bersikap angkuh dan sombong.

 

PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK UNGGUL

Clark (1988) menghimpun dan menyimpulkan berbagai hasil studi yang dilakukan banyak ahli tentang perkembangan sosial dan emosional anak berbakat yaitu sebagai berikut:

  1. Anak berbakat, jika dibandingkan dengan teman sebayanya, merasa labih senang dan puas dengan keadaan dirinya sendiri dan hubungan antarpribadi.
  2. Anak berbakat cenderung menunjukkan penyesuaiam emosional yang lebih baik daripada anak rata-rata walaupun kecenderungan ini lebih erta kaitannya dengan latar belakang sosial ekonomi daripada dengan kecerdasan.
  3. Anak berbakat cenderung lebih mandiri dan kurang konfornitas terhadap pendapat teman sebaya, lebih dominan, lebih mampu mengendalikan lingkungan, dan lebih kompetitif.
  4. Anak berbakat menunjukkan kecakapan kepemimpinan dan menjadi terlibat dalam kegiatan dan kepedulian sosial.
  5. Anak berbakat lebih cenderung memilih kawan yang memiliki kesebayaan usia intelektual daripada mem ilih kawan secara kronologis berada pada usia yang sama.

Anak berbakat akan lebih suka bergaul dengan anak-anak yang lebih tua dari segi usia, khususnya mereka yang memiliki keunggulan dalam bidang yang diminati. Misalnya saja ada anak kelas II Sekolah Dasar yang sangat suka bermain catur dengan orang-orang dewasa, karena jika ia bermain dengan teman sebayanya rasanya kurang berimbang. Dalam hal ini para orang tua dan guru harus memakluminya dan membiarkannya sejauh itu tidak merugikan perkembangan yang lain

Di dalam keluarga, orangtua mencarikan teman yang cocok bagi anak-anak berbakat sehingga ia tidak merasa kesepian dalam hidupnya. Jika ia tidak mendapat teman yang cocok, maka tidak jarang orang tua dan keluarga, menjadi teman pergaulan mereka. Umumnya anak berbakat lebih suka bertanya jawab hal-hal yang mendalam daripada hal-hal yang kecil dan remeh. Kesanggupan orang tua dan keluarga untuk bergaul dengan anak berbakat akan sangat membantu perkembangan dirinya.